IHSG Tutup Juni dengan Anjlok 3%, Parkir di Level 5.600-an.

calendar_today June 30, 2026 at 16:40 person By Admin schedule 1 hour ago
IHSG Tutup Juni dengan Anjlok 3%, Parkir di Level 5.600-an.

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 177,6 poin atau -3,05% ke level 5.643,19 pada perdagangan hari ini, Selasa (30/6/2026).

Sepanjang hari ini, IHSG mengalami tekanan besar dan konsisten berada di zona merah. Indeks bergerak pada rentang 5.638,57–5.811,67. Sebagai informasi pada perdagangan kemarin IHSG ditutup di level 5.820,79. 

Hingga akhir perdagangan, nilai transaksi tercatat sebesar Rp 15,15 triliun dengan volume 19,46 miliar saham dalam 1,59 juta kali transaksi. 

Bila dibandingkan dengan rata-rata harian pada pekan terakhir Mei 2026, nilai transaksi turun 87,33% dan volume anjlok 59,06%. 

Mengutip Refinitiv, pada perdagangan hari ini seluruh sektor hancur. Bahan baku memimpin koreksi dengan -4,35% dan koreksi terkecil di sektor kesehatan -0,9%.

Ada dua saham yang menjadi beban utama IHSG hari ini, yaitu BBCA dengan bobot -35,12 poin dan BBRI -17,25 poin. Selain itu MORA, ASII, hingga EMAS juga masuk dalam daftar top laggards. 

Koreksi IHSG hari ini pun memperpanjang tren bearish IHSG yang sudah terjadi sejak awal bulan. Sepanjang tahun hingga Juni, secara bulanan IHSG selalu menutup bulan dengan koreksi. 

Bila dihitung secara bulanan IHSG Juni 2026 turun 7,9% dan merosot 35,49% sepanjang tahun berjalan. 

Analis MNC Sekuritas Herditya mengatakan pelemahan IHSG terjadi seiring dengan rupiah yang masih lemah terhadap dolar Amerika Serikat. Investor juga memilih menunggu rilis data inflasi Indonesia serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi arah pasar.

Dari sisi komoditas, harga emas dunia turun ke kisaran US$3.958 per troy ons sehingga menjadi sentimen negatif bagi saham-saham yang berkorelasi dengan logam mulia.

Sementara itu, Analis Doo Financial Sekuritas Lukman Leong menilai pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap hasil kajian lembaga pemeringkat global MSCI.

"Walau rupiah sudah stabil namun potensi downgrade status pasar masih ada," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (30/6/2026).

Kemudian, sentimen geopolitik di Timur Tengah juga belum sepenuhnya mereda. Meski Amerika Serikat dan Iran kembali membuka jalur pembicaraan, ketidakpastian yang masih tinggi membuat investor asing lebih memilih melakukan *choppy trade* atau keluar-masuk pasar dalam jangka pendek.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus juga menilai fokus utama investor saat ini masih tertuju pada hasil kajian S&P terhadap pasar Indonesia.

Terpisah, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menilai persoalan likuiditas pasar modal Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan pertumbuhan jumlah investor ritel. Dibutuhkan keseimbangan antara pasokan emiten berkualitas dan basis investor yang lebih beragam.

"Penyerapannya tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada retail investor kita," ujarnya saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (30/6/2026).

Jeffrey memaparkan, dari sisi penawaran (supply), pasar membutuhkan lebih banyak perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar untuk melantai di Bursa. Kehadiran emiten-emiten berkapitalisasi besar diyakini akan memperkuat daya tarik pasar sekaligus memberikan lebih banyak pilihan investasi bagi pelaku pasar.

Sementara itu, dari sisi permintaan (demand), jumlah investor ritel Indonesia dinilai telah tumbuh sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

"Salah satu suplai yang berkualitas tentu adalah perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi besar dalam jumlah yang banyak. Dari sisi demand, itu adalah jumlah investor retail kita yang sekarang sudah luar biasa besar," sebutnya.

Ia menyebut, BEI bersama para pemangku kepentingan melalui reformasi pasar modal berharap dapat meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.

"Sehingga nanti investor asing bersama-sama dengan investor institusi domestik kita dan didukung oleh investor retail kita akan sama-sama menimbulkan dinamika yang sehat di pasar kita," sebutnya

Share insight ini: