Rupiah Ditutup Melemah 0,23%, Dolar AS Naik Jadi Rp17.730
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda harus mengakui kekuatan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Di tengah penantian pasar akan hasil keputusan suku bunga bank sentral AS malam nanti.
Merujuk data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,23% terhadap greenback ke posisi Rp17.730/US$. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Senin (15/6/2026), rupiah sempat ditutup menguat di bawah level Rp17.700/US$, tepatnya di posisi Rp17.690/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sudah mengawali perdagangan di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,25% ke level Rp17.735/US$, lalu konsisten berada dalam tekanan hingga penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 99,554.
Pergerakan dolar AS cenderung terbatas di tengah penantian pasar terhadap keputusan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi besar menjelang hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan pada hari ini. Keputusan tersebut menjadi perhatian karena merupakan rapat kebijakan pertama The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, pelaku pasar akan mencermati pernyataan kebijakan, proyeksi ekonomi, dan konferensi pers untuk melihat arah kebijakan The Fed ke depan.
Perhatian utama pasar tertuju pada apakah The Fed akan mulai meninggalkan bias pelonggaran kebijakan, terutama ketika risiko inflasi dinilai masih tinggi.
Di sisi lain, dolar AS masih bergerak relatif stabil setelah sempat melepas sebagian penguatan safe haven. Hal ini terjadi seiring munculnya rincian kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Meski demikian, pelaku pasar masih berhati-hati. Ketidakpastian menjelang keputusan The Fed membuat pergerakan mata uang global, termasuk rupiah, cenderung terbatas.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang mulai berlangsung pada hari ini dan akan diumkan hasil nya pada besok, Kamis (18/6/2026).
RDG kali ini cukup penting lantaran dalam beberapa waktu terakhir BI sudah mengambil langkah agresif untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Pada pekan lalu, BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% melalui RDG Mingguan.
Langkah serupa juga terjadi pada RDG Bulanan sebelumnya, ketika BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.
Dengan demikian, pasar akan mencermati apakah BI kembali memberi sinyal kebijakan ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama setelah mata uang Garuda kembali melemah pada perdagangan hari ini.