BRI Siap Buyback Saham Lagi, Ini Alasannya!

calendar_today October 20, 2026 at 16:56 person By Admin schedule 1 hour ago
BRI Siap Buyback Saham Lagi, Ini Alasannya!

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah perusahaan di pasar modal kembali marak melakukan aksi korporasi pembelian saham atau buyback saham seiring tingginya volatilitas pasar. Hal ini terjadi lantaran MSCI tengah mempertimbangkan untuk menurunkan status pasar modal RI dari Emerging market menjadi standalone market, sehingga mayoritas saham di lantai bursa anjlok, tak terkecuali saham unggulan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun melalui Surat No. S-112/D.04/2026 tertanggal 9 September 2026 telah memperpanjang penetapan kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan hingga 31 Desember 2026. Dengan penetapan ini, sesuai POJK Nomor 13 Tahun 2023, perusahaan terbuka dapat melakukan pembelian kembali saham tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dengan kondisi tersebut, tidak heran jika perusahaan-perusahaan di pasar modal tengah melanjutkan rencana aksi buyback saham. Salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI.

Emiten satu ini dikabarkan siap melakukan buyback saham karena menganggap pergerakan saham perusahaan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental, kinerja dan prospek bisnis ke depan.

Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan perseroan siap untuk berpartisipasi dalam aksi buyback saham.Rencana buyback tersebut menjadi bagian dari strategi Perseroan untuk menjaga nilai perusahaan dan mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham.

"Rencana tersebut sekaligus mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental dan prospek bisnis jangka panjang Perseroan, dengan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujar Dhanny dikutip Selasa (20/10/2026).

Di sisi lain, Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani sempat mengatakan, fluktuasi dan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang di bawah level 5.000 dapat menjadi peluang investasi jangka panjang. Sehingga Danantara membuka peluang untuk menambah investasi di pasar saham secara bertahap, terutama pada saham-saham yang dinilai memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik.

"Kita kan melihat kembali evaluasi perusahaan-perusahaan kita sangat baik, ya, sangat-sangat solid dan juga valuasinya juga boleh dibilang kan sekarang menjadi sangat murah, ya, gitu. Dan tentunya kita sebagai investor, baik di pasar modal maupun BUMN yang kita miliki, kita justru melihat ini adalah opportunity untuk kita investasi jangka panjang, gitu," ujarnya saat ditemui di Istana Negara.

Menurutnya, keputusan investasi tidak semata-mata didasarkan pada pergerakan harga saham, tetapi juga mempertimbangkan prospek bisnis dan kekuatan fundamental perusahaan dalam jangka panjang. Rosan mencontohkan sektor perbankan yang memiliki fundamental relatif sehat.

Dari sisi valuasi, sejumlah saham perbankan bahkan telah diperdagangkan dengan rasio price to book value (PBV) di bawah satu kali. Kondisi itu menunjukkan harga saham berada di bawah nilai buku perusahaan.

Selain valuasi yang relatif murah, Rosan menyoroti potensi imbal hasil dividen dari saham-saham perbankan. Dia mencontohkan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sekitar 13%.

Dengan tingkat imbal hasil dividen tersebut, menurut Rosan, investor memiliki potensi memperoleh pendapatan dari pembagian dividen tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kenaikan harga saham.

Potensi Saham BBRI

Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta meyakini koreksi saham perbankan, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), mulai membuka peluang akumulasi bagi investor dengan orientasi jangka panjang. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat dengan kondisi fundamental bisnis yang kuat, saham BBRI juga memiliki potensi sangat besar untuk menguat. Sehingga tidak heran jika investor mengakumuasi saham BBRI.

"Secara valuasi, PBV BBRI yang sudah terkoreksi ke level relatif rendah dapat menjadi daya tarik, terutama apabila dibandingkan dengan rata-rata historisnya. Namun, investor tetap perlu mencermati kualitas aset, pertumbuhan kredit, tren biaya pencadangan atau cost of credit, serta kemampuan perseroan menjaga profitabilitas di tengah kondisi ekonomi yang menantang," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Dari sisi dividen, ia pun menuturkan dividend yield BBRI berpotensi mencapai sekitar 10% dan tentu menarik bagi investor yang mengincar pendapatan pasif.

"Dengan demikian, BBRI dapat dipertimbangkan untuk akumulasi secara bertahap oleh investor jangka panjang, terutama ketika valuasinya sudah atraktif dan imbal hasil dividennya kompetitif," terangnya.

Share insight ini: