Media Asing Sorot Potensi Pasar Saham RI Downgrade Menjadi Standalone
Jakarta, CNBC Indonesia - Media asing menyoroti pasar saham Indonesia, Jumat (16/10/2026). Reuters misalnya menulis bagaimana indeks saham Indonesia anjlok 11% setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyatakan tengah mempersiapkan langkah yang dapat membuat pasar saham RI kehilangan status sebagai "Pasar Berkembang (Emerging Market)".
Dalam laporan bertajuk "Global Markets-Most Asian stocks rise as calm returns after CoreWeave shock: Indonesia faces market downgrade", bursa saham Asia terpantau bangkit setelah mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan sebelumnya. Namun, pasar saham Indonesia justru bergerak berlawanan arah.
Reuters melaporkan indeks acuan saham Indonesia merosot 11% setelah MSCI menyatakan pasar saham RI tidak lagi memenuhi kriteria untuk menyandang status Emerging Market. Bahkan MSCI sedang menyiapkan langkah untuk mengeluarkan saham Indonesia dari sejumlah produk indeks yang menjadi acuan investor global.
"Saham-saham Asia menguat pada hari Jumat setelah aksi jual besar-besaran di sesi sebelumnya ketika investor membuang saham-saham teknologi karena pertanyaan tentang tumpukan utang perusahaan cloud CoreWeave memicu kekhawatiran tentang pembiayaan yang mendorong ledakan AI," tulis laman itu.
"Pasar obligasi stabil setelah imbal hasil anjlok pada hari Kamis karena para pedagang membeli Treasury dan utang negara safe-haven lainnya. Dolar tertatih-tatih menuju kerugian mingguan pertamanya dalam lima minggu karena rendahnya imbal hasil (yield) AS mengikis daya tarik mata uang tersebut," tambahnya.
"(Tapi) tolok ukur ekuitas Indonesia JKSE merosot 11% setelah MSCI mengatakan pasar saham negara tersebut tidak lagi layak untuk mendapatkan status 'Emerging Market' dan bersiap untuk menghilangkannya dari serangkaian produk yang dilacak oleh investor global, sebuah kemunduran besar yang kemungkinan besar akan membuat uang lari. Rupiah melemah sekitar 0,8% menjadi 95,0550 per dolar IDR."
Hal senada juga disorot AFP melalui artikel berjudul "Indonesian stocks dive 11% as MSCI weighs market reclassification". Dilaporkan bagaimana hal ini memicu kekhawatiran akan terjadi eksodus investasi asing.
"MSCI menyatakan bahwa menurut para investor, kemajuan yang memadai belum terlihat secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia," tulis laman tersebut merujuk pernyataan MSCI.
"Meskipun telah ada reformasi yang diumumkan, kekhawatiran signifikan tetap ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan praktik perdagangan terkoordinasi yang masih terus terjadi serta kurangnya bukti penegakan hukum yang berarti," tambahnya.
"Oleh karena itu, MSCI menilai klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi tepat, dan kini memulai konsultasi mengenai usulan untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia sebagai Pasar Mandiri (Standalone Market)," lanjutnya.
"Klasifikasi ulang menjadi Pasar Perbatasan (Frontier Market) tidak akan mencerminkan kedalaman masalah pasar yang ada secara tepat."
Sementara itu Bloomberg, negara-negara seperti Argentina, Lebanon, dan Palestina termasuk dalam kategori Pasar Mandiri (Standalone Market). Sementara tidak ada negara di Asia yang menyandang status tersebut.
Perlu diketahui, MSCI berbasis di New York. Perusahaan ini menyusun indeks internasional yang digunakan oleh para investor sebagai tolok ukur untuk menyeimbangkan portofolio mereka.
Perusahaan tersebut juga memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan investasi melalui indeks pasar Emerging Markets unggulannya, yang mencakup 1.200 perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$10 triliun (sekitar Rp 179,8 kuadriliun). Para manajer investasi di seluruh dunia mencermati negara mana saja yang dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari indeks MSCI, karena hal tersebut dapat memicu penyesuaian pada portofolio mereka.